Kamis, 25 Desember 2008

Kematian Kemestian Kita



Salah satu fenomena atau gejala alam yang sering kita lihat di sekitar kita namun mempunyai pelajaran yang sangat besar adalah layunya daun-daun, bunga, kemudian kering berjatuhan. Rusaknya benda dan alat-alat di sekitar kita, yang sebelumnya kita tahu bahwa benda itu bagus,kuat dan memberi manfaat kepada kita.Orang-orang yang dulunya perkasa, gagah dan tampak sehat, akhirnya harus dihadapkan kepada sakit dan kematian. Atau kematian itu datangnya tiba-tiba, sehingga nyata benar bahwa kematian adalah bukti ketidakberdayaan kita. Semua yang hidup akan mati, Allahuakbar, Allah Maha Besar. Dengan segenap hati dan menancapkan kekaguman kita akan kebesaran Allah. Peristiwa kematian sungguh banyak memberi peringatan dan pelajaran. Mari kita renungkan !

Banyak orang yang bersikap biasa saja ketika melihat mobil jenazah lewat, atau iring-iringan membawa keranda mayat ke pemakanan, bahkan gelimpangan mayat di tanah bencana. Biasa, dalam artian tidak ada gelitik dan gemetar hati memperhatikan dan menyimak satu kejadian yang sebenarnya pasti akan dihadapi pula.

Sebenarnya dengan memikirkan kematian sudah cukuplah peringatan kita, terlebih bagi seorang muslim yang mana dalam Al Qur’an dan Hadits begitu banyak menyampaikan pesan tentang kematian.

Bukalah hati, bahwa dengan merenungkan peristiwa kematian, terbacalah kebesaran Allah. Allah yang Maha Hidup. Renungkan ! Kematian adalah rahasia-Nya melebihi misteri mengenai kehidupan.


  1. Kematian, Kepastian

Kematian bukanlah akhir perjalanan manusia. Kematian memang akhir dunia, tapi kematian pula adalah merupakan awal memasuki alam akhirat. Kematian itu pasti, bukan hanya pada manusia, tap semua makhluk hidup di muka bumi akan merasa yang namanya kematian. Cepat atau lambat kematian sudah menjadi kemestian, meninggalkan dunia yang sebenarnya hanya kesenangan yang memperdayakan.


Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. ( Qur’an Surah Ali Imran :185 )


Kepastian tersebut tidak bisa disangkal oleh siapapun, bahkan oleh seorang raja atau penguasa paling hebat. Tak ada seorang pun yang bisa hidup kekal, bahkan seorang Nabi atau lainnya seperti yang difirmankan Allah kepada Rasul-Nya :


Sesungguhnya kamu akan mati dan Sesungguhnya mereka akan mati (pula). ( Qur’an Surah Az-Zumar : 30 )




Kematian merupakan hak Allah. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana nantinya kita mati. Apakah dalam keadaan maksiat ? Atau ibadah ?. Bagaimana kita mati adalah tolak ukur prestasi di hadapan Allah. Bagaimana kita mati menjadi tolak ukur penentu kehidupan di alam keabadian kelak Dalam Al Qur’an Allah menyatakan :


.. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Salaamun'alaikum, masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang Telah kamu kerjakan". ( Qur’an Surah. An-Nahl: 32 )


Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat la'nat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya.


Mereka kekal di dalam la'nat itu; tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh. ( Qur’an Surah Al-Baqarah 161-162 )


Jadi yang terpenting adalah bagaimana kita mempersiapkan kematian itu sendiri, karna dunia bukanlah tujuan. Ia hanya merupakan persinggahan. Dapat dikatakan semua orang tahu dunia hanya sementara, nanti akan hancur, namun bagaimana kita menykapi kehidupan dan kematian, serta alam kebadian sesudahnya, adalah semata-mata hidayah dari Allah. Melalui orang yang dikehendaki-Nya, dan lewat ilmu yang kita pelajari semoga dilimpahkan hidayah dan taufik untuk mempersiapkan kematian, karena dunia hanya sebuah hal fana, bukan abadi.


  1. Dunia, Kefanaan

Kematian adalah sebuah proses alami. Ia menjadi simbol ketidakberdayaan, sekaligus titik akhir dari proses panjang kehidupan. Pada fase ini ada satu realitas yang tak terbantah: bahwa di dunia tiada yang abadi, pasti berakhir, dan hancur.

Sebenarnya kita semua, dan semua yang hidup, dan segala yang ada di dunia sedang menuju kepada kehancuran. Setiap yang lahir akhirnya harus mati, yang dibuat akan rusak begitulah seterusnya sebagai sunatullah kehidupan yang berujung kepada kefanaan.


Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, Maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi Kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, Kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. ( Qur’an Surah Az-Zumar : 21 )


Sungguh indah Al Qur’an menggambarkan proses kehancuran ini. Sungguh akan menjadi pelajaran besar bagi orang-orang yang mempunyai akal, memikirkan tanda-tanda yang diberikan Allah sebagai bentuk Kemahabesaran Allah.

Begitulah kehidupan, menunggu tiada. Dari kenyataan ini, menusia hendaknya berfikir bahwa dirinya mempunyai keterbatasan, keterbatasan usia, kesehatan kekuatan, dan lain sebagainya. Pada diri ada fase kelemahan yang tidak bisa ditolak. Karenanya tak pantas seseorang bersikap takabbur ketika memiliki kelebihan atau kenikmatan.

Selain memanfaatkan waktu, yang tak kalah pentig adalah menyusun skala prioritas. Manusia harus menyadari, boleh jadi hari ini adalah saat-saat terakhir untuk dapat melihat keindahan dunia.


Setiap muslim berharap kelak akhir hidupnya berakhir dengan indah. Ada beberapa hal yang harus diwaspadai agar terhindar dalam su’ul khatimah, yakni: keraguan, panjang angan-angan, dan menunda-nunda taubat.


Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan Sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.


Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang Telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang Telah mereka kerjakan ( Qur’an Surah Huud : 15-16 )


Kefanaan yang Allah tetapkan pada kehidupan pada dasarnya adalah tanda-tanda kekuasaan-Nya. Allah memperlihatkan hal ini pada manusia agar mereka mau memahami kebenaran.

Melalui ayat-ayat-Nya Allah memberikan saran penyadaran bagi manusia bahwa di dunia ini tidak ada yang kekal.

  1. Mengingat Mati

Rasulullah Saw menganjurkan agar kita banyak mengingat mati, karena kematian setiap saat akan datang tanpa ada pemberitahuan lebih dahulu. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw : “Banyak-banyaklah mengingat perkara yang memusnahkan segala kelezatan itu yaitu maut, karena tak ada seseorang yang ingat kepada mati dikala dia dalam kesempitan kecuali dia akan dilapangkan jiwanya. Dan tak ada seseorang yang ingat kepda mati dikala ia sedang lapang, kecuali ia disambut dengan kesempitan”. ( H.R. Ibnu Hibban dan Baihaqi ).

Abdullah Rasyid mengatakan ada 3 macam keadaan manusia dalam mengingat mati, yaitu : Pertama : Orang yang tidak ingat sama sekali kepada mati. Orang ini tidak ingat akan kematian bahkan tak terbayang dalam fikirannya, seakan-akan mati itu tak pernah ada dan ia akan hidup selamanya, orang inilah yang sangat merugi. Orang seperti ini baru akan ingat mati karena mengingat kepada anak atau hartanya. Dia hanya sibuk memikirkan bagaimana kelak anaknya jika dia telah mati, bagaimana harta kekayaan jika ia telah meninggal, atau siapa yang akan menjadi kekayaan jika ia telah meninggal, atau siapa yang akan menjadi suami baru istrinya kalau dia telah tiada. Kedua : Orang yang ingat kepada mati dengan perasaan sangat ketakutan. Orang seperti ini bila ingat kepada mati sangat ketakutan, takut kalau-kalau mati segera datang sehingga dia gemetar tubuhnya. Dia takut naik kendaraan, kalau-kalau tabrakan, takut bergaul kalau-kalau terkena penyakit menular. Bagi orang seperti ini segala nikmat Tuhan akan menjadi bencana. Kedudukan tinggi, gajinya besar, anaknya banyak, rumahnya indah dan sebagainya, semuanya justru akan menmbah takutnya menghadapi kematian. Orang yang pertama dan kedua tersebut adalah orang yang sempit pandangan hidupnya. Orang seperti ini dalam perjalanan hidupnya benar-benar telah tertipu dengan keadaan dunia, dan merasa bahwa hidup di dunia itulah yang paling beruntung, dan takut menghadapi akhirat. Ketiga : Orang yang ingat kematian dengan akal budi. Orang seperti ini akan menyadari bahwa kehidupan dunia hanyalah sebagai ladang tanaman yang hasilnya akan dipetik setelah mati. Mengingat mati akan menyegerakan bertaubat dan memperbanyak amal-amal shaleh sebagai bekal hidup nanti. Orang seperti ini menganggap kematian itu sebagai saat bahagia karena telah terlepas dari perbudakan dunia. Orang ini tidak berat meninggalkan dunia.


Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah. ( Qur’an Surah Lukman : 33 )

  1. NDE ( Near Death Experience )/ Mati Suri

Memang tidak mudah mempercayai adanya kehidupan lain setelah kematian. Sebab, mereka yang sudah meninggal tidak kembali lagi ke dunia. Karenanya untuk mempercayai adanya kehidupan lain setelah kematian hanyalah dengan keimanan yang mantap.

Dr. Raymond dari Amerika dapat memperkuat keyakinan adanya kehidupan lain sebelum adanya kematian. Raymond meneliti sejumlah orang yang mendapat pengalaman mati suri. Dari sejumlah orang diteliti, ia menemukan adaya persamaan pengalaman orang yang mati suri.

Persamaan pengalaman itu, di antaranya mereka yang telah mati suri didatangi dua makhluk cahaya yang semakin dekat tapi tidak menyilaukan mata. Mereka yang mati suri merasakan memasuki lorong gelap dan sampai ke bagian ujung, mereka menemukan di dinding lorong tergambar perbuatan mereka.

Menurut mereka, adanya keinginan untuk menghapus perbuatan buruk yang pernah dilakukan, tapi hal itu tidak dapat. Mereka yang pernah mengalami mati suri juga menyatakan, dirinya melihat tubuhnya terbaring di ranjang, tapi tidak melihat ada orang lain di sekitarnya.

Dalam kajian psikologi dikenal istilah NDE ( Near Death Experience ) yaitu pengalaman yang mendekati kematian atau tepatnya pengalaman mati suri. Ada pula yang mengistilahkan NDS ( Near Death Survival ), yaitu orang yang dinyatakan dokter telah mati, ternyata hidup dan sadar kembali. Pengalaman NDE dapat menjadi bahan pembelajaran bagaimana sebaiknya memandang kematian. Sebab, cerita mereka banyak sejalan dengan Al Qur’an, bahwa ketika ruh lepas dari badan, ruh berisi rekaman perilaku hidupnya dan masing-msing jiwa akan diperlihatkan raport berisi seluruh rekaman amal baik dan maupun buruk.

Di era tekhnologi yang sudah semakin canggih ini, Allah SWT banyak memperlihatkan kebesaran dan kegungan-Nya sebagai bentuk kasih sayang-Ny kepada manusia. Dengan berbagai kejadian, alhamdulillah manusia sedikit banyak mengetahui alam lain. Itu pun hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Di antara kejadian yang dapat memperkuat keimanan kita akan adanya kehidupan setelah kematian, yaitu penelitian yang dilakukan oleh para peneliti Soviet yang dengan microphone super sensitive tanpa sengaja merekam suara jeritan yang diperkirakan dari jutaan orang.


e. Kematian Itu Dekat

Pada dasarnya, kaum yang mementingkan duniawi adalah bodoh, ceroboh, dan dangkal pikirannya. Hidup mereka tidak berdasarkan logika, tetapi mereka hidup dengan kesesatan dan keyakinan yang salah serta mengikuti sangkaan yang berakhir dengan kekeliruan. Salah satu kekeliruan ini adalah keyakinan mereka tentang kematian. Mereka percaya bahwa kematian adalah sesuatu yang tidak perlu dipikirkan.

Sebenarnya, yang mereka lakukan adalah lari dari kenyataan dengan cara mengabaikan kematian. Tanpa memikirkannya, mereka percaya bahwa mereka dapat menghindari peristiwa itu. Akan tetapi, hal ini seperti burung unta yang menenggelamkan kepalanya ke dalam pasir untuk mengindari bahaya. Mengabaikan bahaya tidak membuat bahaya itu hilang. Sebaliknya, orang tersebut berisiko menghadapi bahaya dengan tanpa memiliki persiapan. Akibatnya, ia akan menerima kejutan yang lebih besar lagi. Tidak seperti halnya orang beriman yang mentafakuri kematian dan menyiapkan dirinya terhadap kenyataan yang sangat penting ini, kebenaran yang akan dialami semua manusia yang hidup. Allah memperingatkan orang kafir dalam ayat-Nya,


Kematian bukanlah “bencana” yang harus dilupakan, melainkan pelajaran penting yang mengajarkan kepada manusia arti hidup yang sebenarnya. Dengan demikian, kematian seharusnya menjadi bahan pemikiran yang mendalam. Seorang muslim akan benar-benar merenungi kenyataan penting ini dengan kesungguhan dan kearifan. Mengapa semua manusia hidup pada masa tertentu dan kemudian mati? Semua makhluk hidup tidak kekal. Ini menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki kekuatan dan tidak mampu menandingi Kekuasaan Allah. Allahlah satu-satunya Pemilik kehidupan; semua makhluk hidup dengan kehendak Allah dan akan mati dengan kehendak-Nya pula.


Setiap orang akan mati, namun tak seorang pun dapat memperkirakan di mana dan kapan kematian akan menghampiri. Tidak seorang pun dapat menjamin ia akan hidup pada saat berikutnya. Karena itu, seorang muslim harus bertindak seolah-olah mereka sebentar lagi akan didatangi kematian. Berpikir tentang kematian akan membantu seseorang meningkatkan keikhlasan dan rasa takut kepada Allah, dan mereka akan selalu menyadari akan apa yang sedang menunggunya.



Guru yang tak berbicara adalah kematian, yang dengan diamnya jika kita renungkan akan terlihat kejelasan ketidakberdayaan kita dengan kekuasaan Allah Yang Maha Hidup. Tak ada tempat pelarian untuk menghindari kematian dan jika ajal telah datang maka obat tidak akan bermanfaat dan benteng yang kokoh sekalipun tak akan bisa menghalangi datangnya kematian, sebagaimana firman-Nya :


Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka Mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? ( Qur’an Surah An-Nisa : 78 )


Sesuatu jiwa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, Allah telah menetapkan kematian setiap jiwa, Allah telah menentukan tempat dan waktunya, sebagaimana fiman-Nya :



Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang Telah ditentukan waktunya. barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Qur’an Surah Ali Imran : 145 )


Tak ada seorang pun yang dapat menangguhkan datangnya ajal, sebagaimana firman Allah :


Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila Telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha mengenal apa yang kamu kerjakan. ( Qur’an Surah Al-Munafiqun : 11 )


Beberapa ayat lain dalan Al Qur’an yang menerangkan kematian adalah :


Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar", (tentulah kamu akan merasa ngeri). ( Q.S. Al-Anfal: 50 )


Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan. ( Q.S. Al-Baqarah: 96 )

Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan".

( Qur’an Surah Al-Jumu’ah : 8 )


Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang Telah diusahakannya,

Dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya).

Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna,

( Qur’an Surah An Najm : 39-40-41 )


Majalah Hidayah, Edisi 50.September 2005

Majalah Sabili, No.20 Th.VII 22 Maret 2000.hal.80

Khozim Abu Faqih, Manajemen Kematian. PT.Syaamil

Abdullah Rasyid, Kumpulan Khutbah Jum’at.Husaini bandung h.131

Tabloid Serambi Ummah Edisi 6 April 2007. hal.3

Syaikh Muhammad Bin Ibrahim At-Tuwajiri Pilar-Pilar Agama Islam,. Pustaka Azzam. h.203-205

4 komentar:

Arief Maulana mengatakan...

Blog ini bagus untuk mengingatkan umat manusia, khususnya kaum muslimin yang sudah tidak lagi mengindahkan kematian.

Padahal mengingat mati adalah salah satu pesan baginda Rasulullah SAW.

Salam Sukses,

BLOG MOTIVASI ARIEF - Support Your Success


NB : menanggapi pertanyaan di blognya MAs Joko Susilo, kirim saja ke email saya mas di rief.richgroup@gmail.com

Saran saya, jangan melakukan pemesanan dulu kalau belum benar-benar mengerti dan yakin. Karena itu akan menjadi kesia-siaan.

Kebetulan salah satu member SMUO saya adalah seorang guru, sama seperti mas.

Galantrang Setra mengatakan...

salam kenal. seneng banget deh masih ada yang ngingetin tentang kematian.
mampir ya ke saya
salam sukses

Robert Mendonca mengatakan...

buat apa mikir banyak, eman kita adalah orang mati. di dunia ini kan hanya sementara, hidup abadi nya nanti di surga tanya ajah ama pendeta, pastor dan pak ustad, pasti jawabnya gitu....benar nggak ? masa orang mati nakutin orang mati....

Anonim mengatakan...

kenapa harus pasang foto pocong mas? bukankah pocong itu sunah dalam Islam?

kok jadi ada anggapan pocong itu adalah setan gitu..

sori, cuma sekedar opini..